Memberi Julukan Kepada Anak Berbahaya Lho!


Memberi julukan kepada anak baik sengaja ataupun tidak sengaja sebenarnya sangat tidak baik. Bagi orang tua yang memiliki anak, harus tahu apa dampak dari memberikan julukan tersebut. Dengan contoh, ketika anak tiba-tiba menjadi rewel, cengeng, nakal dan melakukan hal yang tidak biasa dilakukannya. Lalu karena kesal menyebut si anak “Si Bandel” atau “Si Nakal”, dan sebutan lainnya yang tidak sedap didengar. Rewel, ngompol, melawan, atau sikap yang tidak biasa lainnya, boleh jadi disebabkan karena si anak memang sedang sakit badannya. Namun ia tidak mampu menyampaikan rasa sakit yang dirasakan secara jelas dan dimengerti orang dewasa. Karena si anak belum mampu mengontrol dirinya maka tiba-tiba ia pipis di celana tanpa memberi tahu.

Selain faktor kesehatan fisik yang sedang kurang sehat, ada hal lain yang terjadi di luar pengetahuan orangtua. Anak berperilaku aneh disebabkan karena mengalami tekanan psikologis dimana salah satu penyebabnya karena ulah orang dewasa seperti ibu, bapak atau pengasuh, atau orang yang lebih besar dari si anak, kawan bermain misalnya. Orang-orang tersebut telah menempelkan sebuah julukan yang terus menerus kepada si anak setiap ia melakukan perilaku atau sikap yang tidak diinginkan orang lain.

Sudah tahu belum, tentang Labelling Theory?

Labelling theory is the theory of how the self-identity and behaviour of individuals may be determined or influenced by the term used to describe or classify them.

Teori Pelabelan adalah teori tentang bagaimana identitas diri dan perilaku individu dapat ditentukan atau dipengaruhi oleh istilah yang digunakan untuk menggambarkan atau mengklasifikasikan mereka (sumber wikipedia). Teori ini dikemukakan pertama kali oleh Edwin M. Lemert dan Interaksionisme Simbolik dari Herbert Mead, yang dikembangkan oleh Howard Becker pada tahun 1963. Ternyata, menurut para ahli sosiologi tersebut, dengan memberikan label, predikat ataupun cap pada seseorang bisa membentuk karakter orang tersebut.

Miris banget kan, apabila di pikiran anak-anak terbentuk pemikiran seperti itu akibat dari label/julukan yang diberikan. Sama halnya jika anak tersebut terus menerus dipuji, disebut ‘anak pintar’, tentunya ia akan dengan senang hati bersikap sesuai apa yang dibilang orang-orang kepadanya.

Pernah nggak sih memikirkan: Apa yang bakal terjadi esok harinya di sekolah? Bagaimana perasaannya? Malu? Marah? Sedih? Terasing? Apa yang orangtuanya akan lakukan terhadapnya? Menghukumnya seperti apa? Lebih jauh lagi, ini yang paling dikhawatirkan, bagaimana si anak akan menjalani hidupnya kelak?

Sesekali, cobalah untuk melihat satu masalah dari ‘sepatu’ orang lain dan nyalakan tombol empati dalam diri kita! Percayalah, itu akan membuat kita lebih bijak dalam melontarkan pendapat dan adil dalam memberikan solusi.

Lihat dan Baca juga : 5 Cara Agar Pernikahanmu Tetap Harmonis
Tips Menjadi Suami Ideal untuk Istri
Tipsuntuk Pengantin Baru

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s